Goa Pindul – Tempat Cave Tubing Di Gunungkidul

Goa Pindul merupakan satu dari serangkaian tujuh gua yang mengalir di bawah tanah di desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul gua ini mempunyai panjang sekitar 350 meter dan di bagi menjadi tiga zona: terang, remang dan gelap, bila kalian ingin melakukan cave tubing di Yogyakarta, Goa Pindul  merupakan tempatnya.
Cavetubing hampir sama dengan rafting. bila rafting merupakan kegiatan bersama di sungai dengan perahu karet, maka cavetubing merupakan kegiatan dengan memakai ban dalam. di karenakan arus air di Goa Pindul merupakan relatif tenang, maka cavetubing di Pindul juga bisa dilakukan oleh pemula tanpa wajib persiapan ekstra.
penelusuran sungai bawah tanah dengan ban pelampung dan jaket pelampung

penelusuran sungai bawah tanah dengan ban pelampung dan jaket pelampung

Ban dalam pengisi angin, ditambah peralatan keselamatan seperti life jacket dan senter, para pengunjung diajak mengapung  di permukaan air yang mengalir tenang. Sepanjang perjalanan di goa pindul pemandu wisata  yang akan menjelaskan berbagai hal, mulai dari asal-usul penamaan gua Pindul, ornamen di dalam gua hingga Fauna yang ada di dalam gua.

DSC_0153

Di salah satu bagian Goa Pindul terdapat ruangan cukup lebar sehingga terlihat seperti kolam yang luas. Biasanya digunakan sebagai tempat untuk berfoto – foto dan melompat dari tebing / dinding goa.
Nama Goa Pindul sendiri, konon berasal dari legenda yang dipercayai masyarakat sekitar, legenda ini menceritakan pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Setelah menjelajahi hutan lebat, gunung dan sungai, Joko Singlulung juga memasuki salah satu gua hingga kepalanya terbentur  batu ( red : kebendul ) , sehingga gua ini disebut Goa Pindul.

Bagaimana Menyikapi Carut Marut Goa Pindul

Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu

Siapapun kalau pertama kali melihat foto ini pasti akan terhenyak, mungkin akan langsung bereaksi “apa-apaan ini? merusak lingkungan..bla..bla..bla?”. Memang Indonesia masih belajar dalam pengelolaan wisata, apa yang terjadi di Pindul memang sebuah kesalahan, tapi kesalahan itu adalah sesuatu yang diperbaiki.

Di Indonesia turisme massal memang sesuatu yang sampai saat ini belum ditangani dengan serius atau mungkin memang tak akan pernah serius? Karena sudah banyak kasus, mulai dari Tidung, Sempu, Waisyak di Borobudur, Semeru dan sekarang berulang ke Goa Pindul. Adalah mudah jika saling menyalahkan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab tentang masalah ini. Tapi saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah, masalah seperti ini justru butuh solusi yang tepat agar cepat terurai.

Inti Permasalahan

Mungkin sebelum menilai permasalahan di Goa Pindul, sebaiknya harus melihat secara makro dulu seperti apa sebenarnya masalah Pindul. Untuk itu saya menghubungi Arif Sulistyo perihal hal ini siang tadi, Arif adalah salah seorang operator wisata tubing di Pindul. Arif mengelola @GoaPindul_GK, sebuah trip organizer khusus Goa Pindul, menurut Arif, merekalah yang pertama kali merintis jalur wisata di Goa Pindul. Dari yang awalnya dianggap gua yang angker dan menjadi tempat pembuangan berbagai macam sampah, oleh Arif dan tim kemudian dibersihkan perlahan, dijadikan tempat wisata dan akhirnya menjadi sesuatu yang menghasilkan secara ekonomis bagi warga masyarakat sekitar.

Memang jika hanya melihat foto tersebut sekilas, maka yang terbersit mungkin adalah keserakahan operator, ketidakpedulian pengunjung dan ujung-ujungnya penghakiman terhadap terjadinya kerusakan alam. Tapi jauh dari itu, masalah Pindul lebih kompleks dari yang dilihat di foto.

Memang mungkin tipikal orang Indonesia yang gampang tersulut, alih-alih mencari solusi bersama tapi terjebak dalam aroma salah menyalahkan satu sama lain. Ada yang menyalahkan travel writer, karena dianggap sebagai penyebar virus perjalanan dan pembuka tabir tempat eksotis, ada yang menyalahkan operator karena dianggap mata duitan atau terakhir menyalahkan pejalan yang seolah tidak empati pada kondisi tempat wisata. Saling salah menyalahkan tidak akan menghasilkan solusi, justru makin merunyamkan masalah.

Ketika saya tanya motif dibalik mengupload foto tersebut, Arif menjawab foto tersebut ia upload memang untuk menarik banyak pihak agar terbuka matanya dengan kondisi Goa Pindul yang sesungguhnya, kondisi yang menurut Arif sudah sangat memprihatinkan.

“Saya ngga tega sebenarnya mas kalo udah di dalam (Goa Pindul red), miris.” 

Menurut Arif ini adalah buah berlarut-larutnya masalah pengelolaan Goa Pindul. Sempat didera masalah kepemilikan lahan beberapa waktu silam, sampai sekarang juga belum keluar Perda untuk mengatur masalah kawasan wisata Goa Pindul ini. Padahal Perda ini bisa menjadi aturan agar sesama operator bisa duduk bersama baik untuk mengelola wisatanya ataupun menjaga kelestarian alamnya.

Ia mengiyakan terjadinya overload pengunjung. Menurutnya seharusnya per hari Goa Pindul daya tampung idealnya hanya untuk dikunjungi 200 orang, tapi disaat weekend bisa 10 kali lipatnya. Apa boleh buat, Goa Pindul memang daya tarik wisata yang sedang hits, masyarakat setempat pun seolah memanfaatkannya. Tapi jika ini dibiarkan, maka kerusakan alam di sekitar Goa Pindul sedang mengancam.

“lho mas, stalaktit di dalam itu sudah mulai rusak”

Menurut Arif itu karena terlalu banyak orang yang masuk ke dalam Goa secara bersama-sama. Karbon dioksida yang terkonsentrasi ini kemudian merusak stalaktit, membuat lapisan karst meluruh, lambat laun bisa merusak struktur batuan dalam gua. Selain itu ancaman berikutnya adalah soal Hipoksia / kekurangan oksigen. Apabila konsentrasi pengunjung dalam relung gua terlalu banyak dan berebut oksigen, maka yang terjadi saling berebut oksigen, konsentrasi oksigen di dalam makin berkurang dan muncullah Hipoksia. Begitupun jika terlalu banyak manusia yang memasuki relung goa, maka dikhawatirkan biota-biota yang hidup dan tinggal di dalam gelap goa bisa terganggu bahkan mati, itulah yang menimbulkan kekhawatiran akan rusaknya ekosistem di sekitar Goa Pindul.

Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu
Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu

Soal Ekonomi

“Ada 9 operator disini mas.”

Semenjak Arif mulai merintis wisata ini pada 2010 lalu, sekarang ini operator makin marak, rata-rata dari penduduk desa setempat. Mau tak mau, daya tarik wisata Goa Pindul ini telah merubah orientasi penduduk dari yang sebelumnya agraris menjadi menggarap lahan wisata, hal yang tak pernah terpikirkan oleh penduduk sebelumnya. Total tutur Arif ada 9 operator yang berbagi rejeki di Goa Pindul.

Turisme memang pada satu sisi bisa mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi, mengangkat kehidupan masyarakat setempat, memang benar. Namun di sisi lain adalah booming yang tak terkendali, orientasi pada keuntungan semata tanpa memperhatikan aspek daya dukung alam. Kenyataan ini bisa menjadi boomerang, karena sebenarnya daya tarik pesona Goa Pindul ada pada keunikan alamnya, jika itu rusak dan hilang, apa yang bisa diandalkan dan dijual?

Banyaknya operator ini juga menimbulkan masifnya promosi untuk menarik pengunjung. Saya sendiri pernah menyaksikan sendiri, begitu memasuki Gunung Kidul baik lewat arah Yogyakarta maupun melalui arah Klaten, sudah banyak sekali papan nama menuju Goa Pindul. Beberapa menawarkan jasa tour untuk langsung tubing, sebagian menawarkan jasa penunjuk jalan dan mengantarkan pengunjung sampai ke lokasi. Memang menurut Arif, Goa Pindul sudah mampu memberdayakan warga sekitar dan menguntungkan secara ekonomis.

Tapi banyaknya operator juga mendatangkan masalah. Menurut Arif ada beberapa operator yang mengabaikan safety dan SOP dalam pengarungan/tubing di Goa Pindul. Padahal menurut Arif, ini mutlak dipahami operator untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kadang karena terlalu banyak pengunjung mengakibatkan ada kelalaian yang timbul, dan jika ini dibiarkan maka akan menjadi sesuatu yang membahayakan.

Memang seperti hukum ekonomi, semakin banyak permintaan, akan semakin banyak penawaran pula. Ada gula, ada semut. Hal ini tak bisa dihindarkan, namun setidaknya harus dibuat regulasi untuk mengatur agar masyarakat mendapat manfaat secara ekonomi namun juga tidak muncul masalah kerusakan lingkungan kedepannya. Jika hanya mementingkan soal keuntungan materi, maka yang timbul adalah marketing yang membabi buta tanpa ada edukasi ke pengunjung tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

Solusi

Ini mungkin salah satu ekses negatif turisme, bisa jadi merusak alam dan lingkungan serta mengganggu tatanan yang sebelumnya sudah harmonis. Namun memang Indonesia harus banyak belajar soal turisme, bukan hanya pelaku wisatanya yang harus belajar, tapi juga pengelola objek wisatanya harus mampu membangun manajemen yang ramah terhadap lingkungan.

Yang seharusnya menjadi perhatian penting adalah sebenarnya Goa Pindul  sendiri masuk ke dalam kawasan Geopark Karst Gunung Sewu yang akan diusulkan dalam jaringan geopark Internasional Unesco. Nah jika hal ini terus berlarut-larut tanpa ditemukan solusinya, maka bisa jadi potensi wisata yang seharusnya sangat bernilai bisa menguap begitu saja.

Mungkin solusi pertama yang terpikirkan adalah membuat sistem kuota bagi pengunjung yang ingin berkunjung ke Goa Pindul. Sistem ini untuk mengakomodasi daya dukung gua dan tidak terjadi overload. Namun sistem ini harus disosialisasikan benar-benar agar diterima secara legowo oleh semua operator. Karena jika sistem ini diterapkan, tentunya ada pembatasan jumlah pengunjung dan ini akan mengurangi jumlah pengunjung yang datang.

Soal kuota ini sudah diaminkan Arif, bahkan Arif sudah menerapkan sistem kuota ini pada setiap trip yang menggunakan jasanya sebagai operator. Walaupun permintaan membludak, Arif sudah membatasi pengunjung yang akan menggunakan jasanya. Menurutnya jika bukan kita sendiri yang membatasi, maka siapa lagi? Pengunjung yang makin menyemut akan makin merusak Goa Pindul.

Hanya saja, perlu dirembug lagi dengan operator lain agar juga mematuhi aturan ini, melakukan kuota bagi pengunjung. Menurut Arif ini perlu landasan hukum yang kuat, itulah mengapa dalam hal ini Pemda Gunungkidul harus turut bertindak dalam bentuk Perda. Mengenai hal ini, Arif juga yang turut proaktif mendorong Pemda Gunungkidul agar segera menerbitkan Perda tentang Wisata Goa Pindul ini secepatnya, kalau bisa tahun depan sudah terbit, tak lain tak bukan agar ada landasan yang tegas untuk pembagian pengelolaan kawasan wisata Goa Pindul.

Opsi kedua adalah menyesuaikan tarif masuk Goa Pindul. Tarif yang sekarang menurut sekarang terlalu murah, itulah sebabnya orang-orang berbondong-bondong datang, membuat Goa Pindul tak ubahnya pasar induk. Menurut Arif memang ada wacana tarif dinaikkan, tapi itu menunggu ketok palu kesepakatan bersama. Saya pikir itu tidak masalah, toh ini hal yang penting untuk menjamin keberlangsungan wisata Goa Pindul agar tidak merusak alam sekaligus membuat pengunjung lebih nyaman, siapa sih yang mau antre seperti foto diatas? Justru itu membuat kegiatan wisata semakin tidak nyaman, lalu apa yang dicari lagi?

Tapi opsi solusi juga bukan hanya dibebankan pada operator atau Pemda. Seyogyanya ini tanggung jawab kita bersama. Toh, kita sendiri juga penikmat wisata itu sendiri. Mungkin kita harus lebih arif memandang segala sesuatu, misalkan jika destinasi sudah terlalu populer kita bisa mengurungkan niat untuk kesana, karena jika kita datang kita justru bisa memberi beban. Langkah berikutnya mungkin adalah kita perlu menghormati aturan jika kita datang ke tempat wisata. Dan memang jika ingin datang ke Goa Pindul, Arif menyarankan agar melakukan sistem reservasi dengan begitu operator bisa memilihkan hari yang pas, menerapkan sistem kuota dan tidak membebani lingkungan Goa Pindul.

Saya sendiri memiliki solusi agar menerapkan sistem zonasi di Goa Pindul, area mana yang boleh dikunjungi, area mana yang tidak. Selain itu juga perlu dibuat aturan yang tegas dan pengatahuan tentang susur gua. Bagaimanapun gua itu seharusnya disusur oleh para Speleolog dan sebenarnya. Perlu diingat konsekuensi sebuah Goa menjadi tempat wisata adalah berubahnya struktur Goa ataupun berubahnya susunan ekosistem yang hidup di dalam Goa.

Kemudian bisa juga dilakukan penutupan pada waktu-waktu tertentu selama jangka waktu tertentu. Hal ini untuk mengembalikan kondisi Goa, memberi waktu recovery bagi lingkungan Goa Pindul. Hal ini bukan hal baru, beberapa Taman Nasional menerapkan sistem ini untuk memberi waktu agar ekosistem memperbaiki diri. Ini penting mengingat Goa Pindul juga dilalui saluran air, saluran air bagaimanapun penting bagi manusia, bayangkan jika banyak sekali pengunjung yang masuk, bukankah mau tak mau air juga akan turut tercemar?

Banyak kisah pedih tentang kerusakan lingkungan atau punahnya ekosistem karena overload pengunjung. Seperti kisah punahnya beberapa spesies kupu-kupu di kawasan karst Taman Nasional Bantimurung, Maros karena banyaknya pengunjung yang datang merusak aktivitas kupu-kupu sekitar Taman Nasional Bantimurung. Jangan sampai eksploitasi Goa Pindul hanya mementingkan sisi ekonomi saja tapi melupakan keberlangsungan lingkungan yang seharusnya tetap lestari.

Kesimpulan

Obrolan singkat dengan Arif tadi siang membuka banyak hal. Bahwasanya masalah Goa Pindul tidak sesederhana itu, ada beragam kepentingan yang turut disana. Saya kira perlu banyak studi lanjutan yang lebih mendalam mengenai kondisi Goa Pindul, mengingat statusnya yang unik ini. Kemudian Arif juga menunggu solusi-solusi dan diskusi-diskusi lanjutan mengenai apa yang harus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan Goa Pindul. Bukan menanti adu argumen dan polemik yang berkepanjangan.

Sebagai seorang traveler, kiranya harus cerdas untuk membaca situasi yang terjadi. Jangan kemudian hanya menjadi traveler yang datang dan pergi dan bangga dengan kisah-kisah perjalanannya, jadilah seseorang yang bertanggung jawab, mampu mengambil nilai-nilai, tidak merusak dan meninggalkan manfaat. Edukasi sama pentingnya untuk operator, masyarakat, pemerintah dan wisatawan/traveler. Dan tanggung jawab ini dipikul bersama-sama.

Terlepas dari tulisan panjang diatas, masyarakat Indonesia masih harus belajar banyak tentang turisme massal dan belajar menghargai alam. Komersiasilasi di Indonesia masih belum diatur secara tegas dan inilah yang nanti akan menimbulkan bencana karena tidak ada penghargaan terhadap alam dan lingkungan, ironisnya jika ini dibiarkan bencana ini akan terus berulang.

Tabik.

Penulis :  Farchan Noor Rachman

Referensi

Detik : 1, 2, 3, 4, 5, 6

Soloposfm.

Metrotvnews

Tentang Masalah Punahnya Kupu-kupu. 

Legenda Goa Pindul

" Wartawan dari Kompas untuk pertama kali mempopulerkan objek wisata Goa pindul"

” Wartawan dari Kompas untuk pertama kali mempopulerkan objek wisata Goa pindul”

Salah satu wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta yang belakangan sedang naik daun adalah Goa Pindul. Wisata alam ini terletak dan berlokasi di desa Bejiharjo, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Popularitas wisata Goa Pindul tak lepas dari keunikan wisatanya yaitu menyusuri gua dengan media ban pelampung melalui aliran sungai sambil menikmati keindahan stalaktit dan stalakmit khas gua. Kepopuleran Goa Pindul juga didukung oleh kemudahan akses dan kisah yang menyelimutinya.
Lantas seperti apakah sejarah awal Goa Pindul hingga terkenal sampai sekarang ini? Mungkin Anda masih penasaran. Yuk sama-sama simak ulasan dan informasi sejarah Goa Pindul berikut ini.

Legenda dan Misteri Goa Pindul

Sejarah Goa Pindul berawal dari perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang merupakan utusan Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram untuk mencari seorang bayi.
Ketika bayi tersebut ditemukan keduanya membawa bayi tersebut ke arah timur yaitu wilayah Gunung Kidul yaitu di daerah Karangmojo. Suatu saat bayi tersebut menangis. Kedua utusan itu pun lantas memandikan sang bayi.
Ki Juru Mertani mencoba naik ke bukit. Ia kemudian menginjak tanah bukit tersebut. Dan dengan kesaktiaannya tanah itu pun menganga dan runtuh sehingga membentuk lubang yang terdapat aliran air di dalamnya.
Setelah itu sang bayi pun di bawa turun dan akan dimandikan. Saat itulah pipi bayi itu terbentur (kebendhul) batu yang terdapat di goa. Nah, dari situlah kemudian berkembang nama Goa Pindul dari pipi yang terbentur (kebendhul).

Sejarah Goa Pindul Versi Lain

Masyarakat yang berada di sekitar kawasan wisata Goa Pindul rupanya punya cerita dan mempercayai bahwa Goa Pindul berawal dari perjalanan dan petualangan Joko Singlulung. Joko Singlulung melakukan penelurusan dan pencarian guna menemukan ayahnya. Ia menyusuri area hutan, sungai, dan goa-goa. Ketika sedang berada dalam 7 (tujuh) gua yang terdapat aliran sungai di dalamnya, kepala Joko terbentur dengan sebuah batu yang terdapat dalam goa yang ia susuri. Dari peristiwa benturan itulah kemudian nama goa di mana Joko mencari ayahnya dikenal dengan nama goa Pindul yang asalnya dari bahasa Jawa yaitu pipi gebendul (pindul) yang artinya pipi yang terbentur.
Sementara sejarah Goa Pindul versi lain mengungkapkan bahwa di dalam goa tersebut terdapat sebuah mata air (mbelik). Mata air tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan mbelik panguripan yang artinya mata air kehidupan.
Mata air yang terdapat dalam Goa Pindul itu juga berhubungan dengan kisah seorang yang bernama Kyai Jaluwesi yang berseteru dengan Bendhogrowong. Keduanya lantas terlibat dalam adu kekuatan dan kesaktian.
Kyai Jaluwesi nampaknya menang dalam adu kesaktian tersebut. Bendhogrowong kemudian mengeluarkan kesaktiannya untuk menyerang Kyai Jaluwesi. Namun kesaktian yang dikeluarkan tersebut meleset hingga mengenai anjing piaraan anak kembar Kyai Jaluwesi, Widodo dan Widadi. Anjing yang bernaama Sona Langking itu terluka dan berlari kesana-kemari hingga kemudian menjumpai sumber mata air di semak-semak. Kyai Jaluwesi yang mengejar dan mengikuti anjing tersebut terkejut menemukan anjing itu telah sembuh. Dari situ Kyai Jaluwesi menamakan sumber mata air tersebut dengan nama mbelik panguripan karena dapat menyembuhkan seekor anjing.

Awal Wisata Goa Pindul

010

“Subagyo adalah salah satu tokoh perintis objek wisata Goa pindul”

Sebelum menjadi sebuah objek wisata yang terkenal dan menjadi salah satu andalan kabupaten Gunung Kidul, Goa Pindul awalnya hanyalah sebuah goa yang tak terawat dan menjadi sarang kelelawar. Lantas warga bekerjasama dengan sejumlah aparat pemerintah desa Bejiharjo untuk membersihkan kawasan tersebut. Karena keunikannya goa ini kemudian dijadikan dan dikembangkan menjadi objek wisata alam. Pada tahun 2010 pemerintah Kabupaten Gunung Kidul meresmikan goa ini dengan nama Goa Pindul. Dari situlah kemudian objek wisata Goa Pindul menjadi terkenal. Begitulah sejarah Goa Pindul.

Mitos seputar Goa Pindul

Tetetsan air stalaktit di Goa pindul konon katanya bisa menambah awet muda bagi kaum wanita.

Tetetsan air stalaktit di Goa pindul konon katanya bisa menambah awet muda bagi kaum wanita.

Goa Pindul yang kini menjadi primadona objek wisata Gunungkidul, bukan hanya menyimpan banyak keindahan, tetapi juga mempunyai banyak cerita terkait Kerajaan Mataram. Bahkan ada mitos terkait dengan stalaktit atau stalakmit di dalamnya.

Nama Pindul sendiri terkait cerita keluarga Kerajaan Mataram. Konon, kata ‘pindul’ berasal dari dua kata, yakni ‘pipi kejendul’ alias bagian wajah terbentur, yakni terbentur bagian gua yang sempit. Konon, hal ini dialami salah satu keluarga Kraton Yogyakarta.
Karena posisi goa di sepanjang aliran sungai, konon bagian dalam goa ini sering digunakan untuk semedi atau bertapa. Di samping keadaan gelap, suasaa juga sangat sepi, sehingga hening dan pas untuk mengheningkan cipta. Lokasi tempat bertapa berada di kanan-kiri sungai, di antara stalaktit dan stalakmit.
Sementara itu sejumlah mitos mewarnai isi goa tersebut. Di antaranya ada batu berbentuk lonjong menjulang ke atas. Konon, batu tersebut mempunyai khasiat membuat pria menjadi perkasa. Caranya adalah dengan memegang batu tersebut. “Jika ada pria memegang batu ini, maka ia akan menjadi pria perkasa,” kata seorang pemandu wisata.
Kalau yang ini terkait dengan kaum pria, di sisi lain juga ada mitos terkait kaum hawa. Yakni pada bagian atap goa yang secara terus menerus meneteskan air. Konon, setiap perempuan yang terkena tetesan air tersebut, maka ia akan menjadi seorang wanita yang cantik nan jelita.
Kalau anda mengunjungi Goa Pindul, semua ini akan dijelaskan secara gamblang oleh pemandu. Bahkan kalau kurang jelas atau masih penasaran bisa ditanyakan lebih lanjut. Silakan mencoba! (Fie)

Goa pindul Gunungkidul Peroleh Penghargaan LOS Award 2014

LOS_00_Page_25

Bupati Gunungkidul, Badingah menerima anugrah penghargaan LOS Award 2014, dari Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY, sebagai Kepala Dearah Terbaik Tahun 2014.

Penganugrahan tersebut terkait keberhasilan Badingah dalam mendorong iklim pariwisata yang beretika berkelanjutan di DIY.

Penyerahan penghargaan LOS Award diseahkan secara langsung oleh Ketua LOS DIY Nukman Firdausie di Inna Garuda.

Selain Badingah, penerima anugrah penghargaan LOS Award, yakni Desa Wisata Bejiharjo Karangmojo Gunungkidul, dalam kategori Desa Wisata terbaik 2014 atas keberhasilannya dalam pengelolaan desa wisata yang beretika dan berkelanjutan.

LOS Award 2014 diberikan kepada 5 lembaga atau institusi, yakni Kepala Daerah, desa wisata serta perhotelan, baik hotel non bintang maupun hotel bintang 3,4 dan 5” sambung Nukman.

Nukman menambahkan tujuan pemberian penghargaan ini adalah untuk mengapresiasi kinerja dan peran serta stake holder dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik di wilayah Yogyakarta melalui perwujudan tata kelola usaha sector swasta yany beretika dan berkelanjutan.

Untuk institusi, sambung Nukman, LOS Award 2014 kepada manajemen hotel Ruba Graha dalam kategori hotel Non Bintang, hotel Malioboro Inn sebagai hotel Bintang 1 dan 2 serta yang berhak menerima LOS Award kategori Bintang 3,4 dan 5 adalah hotel Melia Purosani.

Atas penganugrahan tersebut Badingah menyatakan sangat bersyukur. Dan sektor pariwisata, sesuai Perda Gunungkidul no 17 tahun 2010, sektor ini menjadi sektor andalan.

Sektor pariwista memiliki kontribusi yang besar karena jasa/pariwisata dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.

Di tahun 2011 saja sumbangan sektor pariwisata sebesar 4,56% meningkat di tahun 2012 sebanyak 5,77% dan 2013 bertambah hingga 7,98%. anjar

Kunjungan Menteri Negara Anggota ASEAN Ke Goa pindul

1001197_490237744388861_264464212_n

Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah pada pertemuan tingkat menteri negara anggota ASEAN mengenai pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan atau Asean Ministerial Meeting on Rural Development And Poverty Eradication (AMRDPE) ke-8 di Yogyakarta, Indonesia pada tanggal 2-5 Juli 2013.

Rangkaian kegiatan 8th AMRDPE ini merupakan wadah yang tepat untuk berbagi informasi dan pengalaman antara negara-negara ASEAN mengenai pemberdayaan masyarakat dan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. Selain itu kegiatan ini akan menjadi media untuk mendiskusikan strategi bersama terkait pengembangan kerjasama yang berfokus pada program pemberdayaan masyarakat guna mengatasi kesenjangan pembangunan, menanggulangi berbagai permasalahan sosial, mencapai MDGs ASEAN, serta mensukseskan agenda ASEAN Community Building pada 2015.

Sebagai rangkaian dari kegiatan ini, pada tanggal 4 Juli 2013 seluruh peserta dan delegasi akan melaksanakan kunjungan lapangan ke lokasi PNPM Mandiri di kelurahan Karang Waru, Yogyakarta untuk melihat secara langsung jalannya program pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Selain itu peserta juga akan mengunjungi kabupaten Gunung Kidul dan wilayah Gua Pindul untuk mendapatkan penjelasan terkait program pembangunan desa, penanggulangan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat.

Daftar tamu undangan antara lain :

  1. Menteri kesejahteraan rakyat dari Myanmar : Mr. Thet Naing Win
  2. Menteri kesejahteraan rakyat dari Laos : Mr. Bounheuang Douangphachanh
  3. Ibu Pamuji Lestrari : Asisten Kedeputian 7 bidang pemberdayaan masyarakat KEMENKOKESRA
  4. Ibu Maghdalena : Asisten Kedeputian 7 bidang pengembangan usaha kecil mikro dan teknologi tepat guna.
  5. Bapak Bakri MM, Direktur pemeberdayaan masyarakat KEMENPAREKRAF
  6. Delegasi ASEAN + 3 negara dari Brunei Darusalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Laos. dan dari  perwakilan dari luar ASEAN, yakni Korea Selatan, Jepang, dan China.

Tamu undangan juga mendengarkan paparan Subagyo ( Ketua Desa Wisata Bejiharjo ) tentang pengelolaan pindul (pemberdayaan masyarakat, dapat mengurangi pengangguran, peningkatan ekonomi masyarakat, dan peningkatan wisatawan,Selanjutnya mendengarkan paparan dari Bpk Wakil Bupati Gunungkidul, tentang potensi yang ada di daerah gunungkidul salah satunya wisata dan saat ini sudah banyak desa-desa wisata yang mengioptimalkan potensi lokal dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal salah satunya pindul, kemudian cerita tentang sistem informasi desa (SID) yang diimplementasikan di 6 desa – Nglegi, Beji, Nglanggeran Kecamatan Patuk. Girikarto, Girimulyo, Girisuko Kec.panggang – sistem ini untuk memperbaiki data kemiskinan, potensi desa dan perbaikan pelayanan publik bagi masyarakat. harapannya dengan perbaikan data maka akan dapat meminimalisir ketidaktepatan sasaran program penanggulangan kemiskinan seperti BALSEM).

Desa Wisata Bejiharjo Dinobatkan Menjadi Desa Wisata Terbaik Tahun 2012

Juara 1 lomba desa wisata tingkat nasional

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Dr Sapta Nirwandar, memberikan penghargaan kepada 10 desa wisata.

Ke-10 desa dinilai berhasil meningkatkan kualitas desa wisata, melalui pemberdayaan masyarakat untuk menanggulangi masalah kemiskinan, peningkatan lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi masyarakat desa.

Penghargaan Desa Wisata 2012 diberikan kepada Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

Peringkat kedua diraih Desa Banjarsari, DIY. Sedangkan peringkat ketiga dihuni desa di Kelurahan Kauman, Jawa Tengah.

Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata (Dirjen PDP) Firmansyah Rahim melaporkan, pemberian Penghargaan Desa Wisata 2012 baru kali ini digelar.

Ini dilakukan untuk mengapresiasi keberhasilan desa wisata penerima PNPM Mandiri Pariwisata.

“Semula ada 72 desa wisata usulan Dinas Pariwisata dari 20 provinsi di Indonesia sebagai calon penerima penghargaan,” kata Firmansyah, Selasa (25/9/2012)

Firman menambahkan, setelah melalui proses tahapan penilaian administratif, kunjungan lapangan, dan peninjauan potensi wisata desa, akhirnya dewan juri dalam rapat pleno, menetapkan tiga desa wisata sebagai penerima penghargaan utama, enam desa penerima penghargaan harapan, dan satu desa penerima penghargaan khusus.

Ke-10 desa wisata mendapatkan piala, piagam,  dan hadiah uang Rp 20 juta (juara I), Rp 15 juta (juara II), Rp 10 juta (juara III), serta penghargaan pembinaan kepada tujuh desa, masing-masing Rp 5 juta.

Situs Megalitikum Sokoliman

16102010_018Situs Sokoliman berada di Dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Secara geografis terletak kira-kira pada posisi 07deg 55,1269min Lintang Selatan dan 110deg 39,3269 Bujur Timur. Penanda secara fisik kurang lebih berada ujung sebelah barat dari rumah-rumah penduduk Dusun Sokoliman sebelum perladangan dan hutan kayu putih. Tepatnya di sebelah barat poros jalan kabupaten yang menghubungkan Dusun Sokoliman dengan Desa Jatiayu dan Dusun Sokoliman dengan Dusun Gelaran. Di sebelah selatan situs ini membentang Kali Oya yang membuat lumayan subur area yang dilaluinya. Hulu DAS (daerah aliran sungai) Kali Oya adalah wilayah Kecamatan Semin yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri. Kali Oya sendiri merupakan sungai terpanjang di Kabupaten Gunungkidul, yang muaranya bertemu dengan Kali Opak di sekitar daerah Kretek Parangtritis Bantul.

 Situs Sokoliman ini menurut catatan Balai Arkeologi Yogyakarta termasuk salah satu Cagar Budaya Situs Megalitikum yang sporadis tersebar di kawasan Gunungkidul. Benar memang, wujud fisik situs ini hanyalah berupa kumpulan batu-batu yang saat ini sudah tertata rapi dan diberi kode identifikasi di atas tanah yang sudah diratakan dan diberi batas dengan concrete-blok. Terdapat beberapa blok untuk meletakkan batuan di area situs ini. Ada 4 blok terpisah, membujur selatan-utara di sebelah kanan pintu masuk, dan membujur timur barat dan utara selatan di sebelah baratnya. Untuk blok di sebelah kiri pintu masuk terdapat batuan serupa papan berdiri yang diapit oleh batuan bulat panjang di masing-masing sisinya. Kode-kode identifikasi, seperti: A01, A02, D24, D25, dan seterusnya tampaknya merupakan kode penelitian arkeologis yang telah dilakukan. Sayangnya di lokasi situs ini tidak tersedia informasi apa arti kode-kode tersebut. Continue Reading →

lokasi goa pindul

PETA

Saat mendengar nama Gunungkidul,  yang terlintas dipikiran kita pasti “pantai”. Tapi sebenarnya masih banyak yang menarik dari kabuapaten Gunungkidul. Berbeda dengan empat kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta yang subur nan hijau, Gunungkidul adalah perbukitan kapur tandus yang selalu dilanda kekeringan. Berada di pesisir selatan Pulau Jawa, Gunungkidul merupakan sisa lautan di masa silam. Manusia-manusia awal di sini bersaudara tua dengan manusia ras Australoid dari Pegunungan Sewu di wilayah Pacitan yang datang melalui jalur lembah karst dan Bengawan Solo purba menuju Gunungkidul di akhir zaman pleistosen sekitar 700 ribu tahun lalu. Bentang alam gunungkidul adalah pesona tiada dua. Mulai dataran tinggi vulkanis, derasnya sungai bawah tanah, kegelapan goa vertikal maupun horizontal, hingga eksotisnya deretan pantai pasir putih. Semua ada di Gunungkidul. Berpuluh tahun diselimuti kabut tentang misteri tanah yang tandus, kekeringan yang kerap melanda, namun kini Gunungkidul telah menampakkan diri, memperlihatkan keindahanya yang selama ini tersembunyi. Ibarat si itik telah menjelma menjadi angsa putih nan cantik. Continue Reading →

Ekosistem Karst | Ornamen dan Keindahan Goa

Bentuk ornamen-ornamen gua merupakan keindahan alam yang jarang kita jumpai di alam terbuka. Di tengah kegelapan abadi proses pengendapan berlangsung hingga membentuk ornamen-ornamen gua ( speleothem ). Proses ini disebabkan karena a ir tanah yang menetes dari atap gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya. Dalam rangka mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan melarutkan kalsit menjadi berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap. Continue Reading →