Proses Terbentuknya Goa Pindul

Dewabejo, ornamen goa pindul

Terbentuknya Goa Pindul itu sendiri tidak terlepas dari adanya proses pelapukan pada wilayah kapur.Pelapukan adalah peristiwa penghancuran massa bantuan,baik secara fisik,kimiawi,maupun secara biologis.Proses pelapukan batuan membutuhkan waktu yang sangat begitu lama. Semua proses pelapukan umumnya dipengaruhi oleh cuaca. Batuan yang telah mengalami proses pelapukan akan berubah menjadi tanah.Apabila tanah tersebut tidak bercampur dengan mineral lainnya, maka tanah tersebut dinamakan tanah mineral.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelapukan batuan antara lain yaitu:

  1. Keadaan struktur batuan

Struktur batuan adalah sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki oleh batuan.Sifat fisik batuan, misalnya warna batuan, sedangkan sifat kimia batuan adalah unsur-unsur kimia yang terkandung dalam batuantersebut. Kedua sifat inilah yang menyebabkan perbedaan daya tahan batuan terhadap pelapukan

  1. Keadaan topografi

Topografi muka bumi juga ikut mempengaruhi proses terjadinya pelapukan batuan. Batuan yang berada dilereng curam cenderung akan mudah lapuk dibandingkan dengan batuan yang berada di tempat landai. Pada lereng yang curam batuan akan mudah terkikis karena langsung bersentuhan dengan cuaca sekitar

  1. Cuaca dan iklim

Unsur cuaca dan iklim yang mempengaruhi proses pelapukan adalah suhu udara, curah hujan, sinar matahari, angin, dan lain-lain. Pada daerah yang memiliki iklim lembab dan panas, batuan akan cepat mudah mengalami pelapukan. Pergantian temperatur antara siang yang panas dan malam yang dingin akan semakin cepat proses pelapukan.

  1. Keadaan Vegetasi

Vegetasi atau tumbuh-tumbuhan juga akan mempengaruhi proses pelapukan, sebab akar-akar tumbuhan tersebut dapat menembus celah-celah batuan. Apabila akar batuan tersebut semakin membesar, maka kekuatannya akan semakin besar pula dalam menerobos batuan.

         Jika dikaji prosesnya, pelapukan yang terjadi di Goa Pindul adalah sebagai akibat adanya pelapukan secara kimiawi. Pelapukan kimiawi yaitu proses pelapukan masa batuan yang disertai dengan perubahan susunan kimiawi batuan yang lapuk tersebut. Proses yang terjadi dalam pelapukan kimiawi ini disebut juga dengan nama Dekomposisi.Pelapukan kimiawi banyak terjadi di daerah panas dan lembab sebab tersedianya air yang membasahi dan melarutkan batuan kapur Terdapat 4 macam proses yang termasuk pada pelapukan kimia, yaitu sebagai berikut:

  1. Proses Hidrasi,  yaitu proses batuan yang mengikat batuan diatas permukaan saja. Proses pelapukan ini adalah air sebagai zat pelarutnya. Molekul-molekul air sebagai zat pelapuknya teradsorpsi (tertarik atau tertangkap)oleh satu zat
  2. Hidrolisa, yaitu proses penguraian air(H2O) atas unsur-unsurnya menjadi ion positif dan negatif. Jenis pelapukan ini terkait dengan pembentukan tanah liat
  3. Oksidasi, yaitu proses pengkaratan besi. Oksigen sebagai zat pelapuknya yang terlarut dalam air atau terdapat dalam udara yang lembab. Proses oksidasi terlihat pada pelapukan batuan yang banyak mengandung unsur besi dengan oksigen. Proses pelapukan ini berlangsung sangat lama, tetapi batuan akan pasti akan mengalami proses pelapukan
  4. Karbonasi, yaitu pelapukan batuan oleh karbondioksida (CO2). Gas ini terkandung pada uap air menjadi air hujan. jenis batuan yang mudah mengalami karbonasi adalah batuan kapur. Reaksi antara karbondioksida dengan batuan kapur akan menyebabkan batuan menjadi rusak. Pelapukan ini berlangsung dengan bantuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (karbondioksida) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CacO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan yang dapat menimbulkan gejala karst. Proses pelapukan batuan secara kimiawi di daerah karst disebut dengan kartifikasi.

      Bentukan-bentukan relief yang terdapat didalam goa kapur tidak terlepas akibat adanya proses pelapukan kimia, berupa karbonasi. Zat pelapuk dalam proses ini adalah karbondioksida (CO2) yang bereaksi dengan air (H2O) menjadi kalsium bikarbonat

Karst merupakan salah satu bentuk pelapukan kimiawi. Karst adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga apabila ada air di permukaan maka akan selalu merembes ke dalam tanah.Gejala atau bentuk-bentuk alam yang terjadi di daerah karst diantaranya yaitu: dolina (lubang-lubang yang berbentuk corong), ponor (lubang yang air tanahnya dalam), goa dan sungai bawah tanah, Stalaktit (batuan yang bergantungan pada atap goa), stalakmit (batuan yang berada didasar goa).

Stalaktit dan stalakmit adalah bentuk alam khas di daerah karst. Stalaktit dan stalakmit terbentuk akibat dari proses pelarutan air di daerah kapur yang berlangsung secara terus menerus. Air yang larut di daerah karst akan masuk kelubang-lubang kemudian turun ke goa dan menetes-netes dari atap goa ke dasar gua. Tetesan air ini lama-lama berubah jadi batuan yang bentuknya runcing-runcing seperti tetesan air. Stalaktit  adalah batu yang terbentuk di atap goa, bentuknya meruncing kebawah, sedangkan stalakmit merupakan batu yang terbentuk di dasar goa bentuknya meruncing ke atas.

        Stalakmit adalah jenis speleothem (mineral sekunder ) yang membentuk suatu gundukan di lantai goa. Stalakmit terbentuk karena tetesan air dari atas langit-langit goa yang mengandung mineral, dan secara terus-menerus jatuh ke lantai goa tersebut terus mengendapkan material, dan membangun suatu gundukan.

Stalaktit adalah jenis speleothem (mineral sekunder ) yang menggantung dari langit-langit goa kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes (dripstone). Stalaktit terbentuk akibat adanyapengendapan kalsium karbonat dan minerallainnya, yang terendapkan pada larutan air mineral. Batu kapur adalah batuan kalsium karbonat yang dilarutkan oleh air yang mengandung karbondioksida, sehingga membentuk larutan kalsium bikarbonat.

 Goa Pindul merupakan Goa basah, karena terdapatnya sungai yang masih mengalir dari bagian depan hingga mulut goa di bagian belakang. Pada awal terbentuknya Goa Pindul dengan sungai yang mengalir berada didalamnya terjadi sebagai akibat karena adanya proses pelarutan oleh air hujan yang jatuh di daerah kapur meresap melalui celah atau retakan yang disebut diaklas, mengikis daerah yang dilaluinya maka retakan atau celah itu akan semakin lebar dan membesar Jika retakan atau celah membentuk lubang-lubang yang saling berhubungan dan terdapat aliran air maka terbentuklah sungai di bawah tanah

Terbentuknya sungai di bawah tanah yang berada di Goa Pindul sesuai dengan penjelasan yang dijelaskan oleh Teori Deep Phreatic-Cjivic (1893), Grund (1903), Davis (1930) dan Bretz (1942). Teori ini  menjelaskan bahwa permulaanterbentuknya goa dan kebanyakan pembesaran pergoaan terjadi dikedalaman yang acak berada di bawah water table, sering kali juga terdapat pada zona phreatic yang dalam.Goa-goa diperlebar sebagai akibat dari korosi oleh air phreatic yang mengalir pelan.

Keindahan Objek Wisata Goa Pindul di Gunung Kidul

Goa Pindul merupakan salah satu destinasi yang sangat cantik di kawasan Yogyakarta yang wajib kamu kunjungi. Tempat wisata ini terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunung Kidul Yogyakarta. Goa Pindul merupakan salah satu gua yang di dalamnya terdapat sebuah aliran sungai bawah tanah yang memanjang dari mulut gua sampai ekornya.

Wisata Goa Pindul resmi dibuka untuk umum pada 10 Oktober 2010. Gua ini mempunyai pemandangan yang sangat eksotis, jadi tidak usah heran bila banyak wisatawan yang berbondong-bondong setiap harinya untuk menikmati keindahan objek wisata Goa Pindul. Berikut ini adalah ulasan tentang keindahan Goa Pindul yang sangat eksotis.

Continue Reading →

Ada Apa dengan Dewa Bejo Goa pindul ?

100_1304

Dewa Bejo? Ada hubungan apa dengan dewa-dewa yang ada di kisah Mahabarata atau Baratayudha? Mendengar Dewa Bejo tentu akan membuat Anda kepo bukan? Pun demikian dengan saya saat pertama kali mendengarnya. Saya pikr, dia sebangsa dengan Dewa Wisnu, Dewa Shiva, atau dewa yang lain.

Ups, ternyata jauh… Sama sekali tak ada hubungannya. Sebab Dewa Bejo itu ternyata singkatan dari sebuah tempat wisata di Kabupaten Gunung Kidul. Desa Wisata Bejiharjo demikian kepanjangannya. Sebuah desa wisata yang terletak di Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI. Yogyakarta (DIY). Praktis, secara geografis letak desa wisata ini lebih dekat ke arah Kota Wonosari, ibu kota Kab. Gunungkidul. Jika ditempuh dari Kota Yogyakarta kurang lebih 35 km., dengan melewati pegunungan yang cukup indah pemandangannya.

Dahulu Gunungkidul dikenal sebagai wilayah yang sulit air. Pun demikian juga kehidupan ekonomi yang memprihatinkan. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi sekarang. Berkat pengembangan dan inovasi pemerintah daerah dalam hal peningkatan kegiatan sadar wisata, Gunungkidul saat ini dikenal sebagai ‘surga baru’ wisatawan. Puluhan desa wisata dan objek wisata yang baru dikembangkan dan dikenalkan ke publik.

5

Rintisan kelompok-kelompok sadar wisata sejak tahun 2010-an, kini telah menunjukkan hasilnya. Desa wisata Bejiharjo (Dewa Bejo) ini adalah salah satu desa sadar wisata terbaik di Provinsi DIY pada tahun 2012 yang lalu. Potensi wisata yang sudah mendunia adalah cave tubing Goa Pindul. Disamping wisata susur kali/sungai Oya yang tak kalah menarik. Pengembangan objek Dewa Bejo yang mulai dibuka sejak pertengahan tahun 2010 mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini tak lepas dari partisipasi semua pihak dalam memandang pentingnya pengembangan potensi wisata kreatif untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. Meski dalam beberapa waktu sempat mengalami kendala akibat pengelolaan potensi wisata yang merupakan aset pribadi. Namun hal itu dapat diselesaikan secara musyawarah khas masyarakat Yogya.

Selain wisata alam yang menantang, potensi budaya berupa Wayang Beber. Dimana kesenian tradisional tersebut sudah menjadi salah satu cagar budaya nasional. Sebab keberadaannya yang dikhawatirkan makin punah. Seperti diketahui bahwa artefak purbakala saat ini hanya ada 2 di Indonesia. Sebuah tersimpan di Pacitan, sementara yang satunya lagi terdapat di Dusun Bleberan, Desa Bejiharjo.

Tak ketinggalan, bidang pendidikan pun sempat meraih prestasi nasional dengan Omah Sinau-nya. Disamping budidaya ikan perairan tawar yang mulai dilirik, kerajinan pembuatan blangkon menjadi salah satu andalan produk nasional. Wisatawan pun disila jika ingin praktik belajar membuat blangkon. Sementara untuk menunjang kenyamanan wisatawan, disediakan pulahomestay dengan tarif yang sangat ekonomis. Cukup dengan 30 – 50 ribu per orang sudah dapat menginap untuk semalam. Cukup menarik bukan?

artikel by Nuzulul Arifin

Sensasi Caving Goa Pindul di Gunung Kidul

Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta memang mempunyai banyak tempat wisata. Kalau biasanya kita selalu dikait-kaitkan dengan pantainya yang mempesona. Ternyata ada tempat wisata lainnya yang tidak kalah bagusnya dari pantai. Didaerah Gunung Kidul ini juga ada goa yang bisa kita susuri. Ada banyak goa yang ada di Gunung Kidul, dan salah satu goa yang sudah pernah aku kunjungi adalah Goa Pindul.

#9

Goa Pindul ini berada didusun Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul. Panjang goa Pindul ini sekitar 350 meter, kita dapat menyusuri goa ini menggunakan sebuah ban dalam mobil/truk. Dari sana kita akan merasakan sensasi yang cukup berbeda. Pokoknya seru deh, tapi sebenarnya akan lebih seru lagi kalau saat kita menyusuri goa ini dalam keadaan sepi. Tidak terlalu ramai oleh pengunjung.

Dari lokasi pembayaran HTM yang 35k, kita akan meminjam pelampung dan membawa sebuah ban dalam setiap orang. Setelah itu kita berjalan sekitar 15 menit untuk menuju start awal kita masuk ke goa ini. biasanya dalam satu regu/kelompok kita dibatasi 10-15 orang. Tergantung ramai/sepinya pengunjung. Tapi kayaknya akhir-akhir ini sih pengunjung Goa Pindul nggak ada sepinya. Malahan sempat tersebar foto saat Goa Pindul overload.

Setiap kelompok akan diurusi dua petugas, satu bagian depan sebagai petunjuk arah, dan satunya dibelakang sebagai mengatur atau menjaga peserta yang mungkin tertinggal. Jadi setiap orang per kelompok wajib saling pegang-pegangan tali ban biar nggak tercecer. Sampai didalam kita bisa melihat stalagmit dan juga stalaktit. Selain itu juga kita bisa melihat gerombolan penghuni goa Pindul (sekawanan kelelawar) yang biasa mereka sebut dengan nama “Kampret”.

#18
Sebenarnya goa ini mulai terdengar ramai sekitar tahun 2010an. Hingga sekarang goa ini menjadi salah satu tempat yang begitu diminati oleh kalangan mahasiswa atau pengunjung yang berlibur di Yogyakarta. Kita berharap goa ini, ataupun goa-goa lainnya bisa tetap terjaga kebersihannya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dan yang pasti pengunjung maupun pengelola bisa lebih bijak dengan menerima pengunjung goa tidak asal dimasukkan. Seperti kasus beberapa bulan kemarin yang pengunjungnya terlihat manusia semua, mereka tidak bisa bergerak karena overload.

#21

Semoga tempat wisata goa Pindul ini bisa menjadi salah satu alternatif kalian yang ingin merasakan sensasi menyusuri goa. Walau jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi tetap saja sensasinya akan terasa berbeda. Pokoknya dijamin kalian tidak akan pernah menyesal ke goa ini. oya, masukan saja, kalau bisa kesini pas tidak hari-hari libur. Jadi tidak terlalu banyak pengunjungnya. Biar bisa lebih menikmati ketenangan di dalam goa Pindul.

Artikel by Nasirullah Sitam

Menyusuri gelapnya lorong goa pindul

Sebuah petualangan mengarungi aliran sungai bawah tanah ditambahi dengan sodoran legenda pengembaraan pencarian sang ayah oleh Joko Singlulung. Menyusuri gelapnya lorong goa dengan menggunakan ban pelampung menambah asik dan serunya perjalanan.

15

Goa Pindul merupakan tempat menyatunya 7 goa dan tempat mengalirya serangkaian aliran sungai bawah tanah yang terdapat di desa Bejiharjo, Karangmojo. Dolaners dapat merasakan sensasi petualangan yang asik dan juga menegangkan, karena sungai mengalir didalam Goa Pindul menawarkan sejuta pesona. Sekitar 45 hingga 60 menit Dolaners diajak menysuri gelapnya sungai sepanjang 300 dengan menggunakan ban pelampung. Petualangan yang ditawarkan kepada Dolaners tersebut merupakan perpaduan dari caving dan body rafting tersebut yang akrab dipanggil dengan sebutan cave tubing.

Beberapa peralatan yang dibutuhkan saat pengunjung beraktifitas Cave Tubing Goa Pindul Yogyakarta adalah ban pelampung, head lamp dan life vest yang secara keseluruhan telah disiapkan oleh pengelola. Sungai yang memiliki aliran yang tenang ini aman bagi siapapun baik anak-anak hingga orang dewasa. Waktu yang baik dalam melakukan aktifitas ini adalah sekitar pukul 09.00-10.00 WIB, pada kisaran jam tersebut ketika cuaca sedang cerah maka Dolaners akan menyaksikan munculnya cahaya surga. Cahaya surga ini berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah besar pada atap goa.

Konon menurut legenda, Goa Pindul dipercayai secara turun temurun oleh masyarakat sebagai kisah dari pengembaraan Joko Singlulung dalam mencari ayahnya. Seorang pemandu pun akan menceritakan asal-usul tempat ini sehingga dinamai Goa Pindul. Singkat cerita adalah Joko Singlulung menjelajahi hutan lebat, gunung dan sungai kemudian memasuki goa. Ketika memasuki Goa Joko Singluhung terbentur sebuah batu, kejadian itulah yang membuat tempat tersebut disebut dengan Goa Pindul yang berasal dari kata unik yaitu pipi gabendul.

Hal lain yang akan dijelaskan pemandu kepada pengunjung adalah tentang ornamen-ornamen seperti moonmilk, kristal serta stalaktit dan stalagmit. Pada beberapa atap juga terdapat lukisan alami hasil dari penghuni goa yaitu binatang kelelawar. Ditengah Goa Pindul juga terdapat sebuah tempat yang mirip dengan kolam besar dan biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan sejenak.

1476201_567522726660362_941063158_n

artikel by : Dolaners

Dewabejo Juara I Lomba Pokdarwis DIY

Ketua Pokdarwis Dewabejo dan tropy penghargaannya (Foto: Agus Waluyo)

Ketua Pokdarwis Dewabejo dan tropy penghargaannya (Foto: Agus Waluyo)

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bejiharjo (Dewabejo) ditetapkan sebagai pokdarwis terbaik dalam lomba pokdarwis tingkat DIY 2014. Dewabejo pengelola Goa Pindul ini mengalahkan rivalnya perwakilan dari kabupaten/kota se DIY. Kelompok ini segera diajukan dalam lomba yang sama tingkat nasional. Selain mendapatkan tropy juga hadiah uang pembinaan Rp 7 juta.

Keberhasilan Dewabejo menjadi juara I tingkat DIY  melengkapi prestasi yang diraih pada 2012 sebagai desa wisata terbaik tingkat DIY dan tingkat nasional. “Prestasi ini merupakan tantangan bagi kami untuk lebih meningkat terutama agar pokdarwis dan desa wisata Goa Pindul benar-benar mampu meberdayakan masyarakat menuju sejahterta,” ujar Subagyo Ketua Pokdarwis Dewabejo usai menerima penghargaan dari Dinas Pariwisata DIY di Kawasan Objek Wisata Goa Pindul, Selasa (25/03/2014).

Ir Joko Kuntoro Ketua Tim Yuri Lomba Pokdarwis 2014 mengatakan bahwa dari hasil klarifikasi lapangan kejuaraan lomba pokdarwis juara 1 – 3 masing-masing Pokdarwis Dewabejo Bejiharjo, Pokdarwis Pantai Baru Bantul dan  Pokdarwis Hargowilis Kulonprogo.

Juara harapan 1 -3 masing-masing Pokdarwis Kalisuci Semanu,  Pokdarwis Teplok Pesiran Kota Yogyakarta  dan Pokdarwis Santan Bantul. Penyerahan penghargaan oleh kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY Ir Sinang Sidarta juga dihadiri Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Gunungkidul  Hari Sukmono.

Kriteria penilaian meliputi sadar wisata, implementasi sapta pesona, potensi wisata serta faktor pendukung lainnya. Tim yuri terdiri dari Ir Joko Kuntoro dari Asitar, Drs Joko Purwanggono dari HPI, Drs Octo lampito MPd dari SKH Kedaulatan Rakyat,  Hendry Branmantyo dari Puspar UGM dan  Broto Yogantoro dari Forkom Desa Wisata DIY. (Awa)

Goa Pindul – Tempat Cave Tubing Di Gunungkidul

Goa Pindul merupakan satu dari serangkaian tujuh gua yang mengalir di bawah tanah di desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul gua ini mempunyai panjang sekitar 350 meter dan di bagi menjadi tiga zona: terang, remang dan gelap, bila kalian ingin melakukan cave tubing di Yogyakarta, Goa Pindul  merupakan tempatnya.
Cavetubing hampir sama dengan rafting. bila rafting merupakan kegiatan bersama di sungai dengan perahu karet, maka cavetubing merupakan kegiatan dengan memakai ban dalam. di karenakan arus air di Goa Pindul merupakan relatif tenang, maka cavetubing di Pindul juga bisa dilakukan oleh pemula tanpa wajib persiapan ekstra.
penelusuran sungai bawah tanah dengan ban pelampung dan jaket pelampung

penelusuran sungai bawah tanah dengan ban pelampung dan jaket pelampung

Ban dalam pengisi angin, ditambah peralatan keselamatan seperti life jacket dan senter, para pengunjung diajak mengapung  di permukaan air yang mengalir tenang. Sepanjang perjalanan di goa pindul pemandu wisata  yang akan menjelaskan berbagai hal, mulai dari asal-usul penamaan gua Pindul, ornamen di dalam gua hingga Fauna yang ada di dalam gua.

DSC_0153

Di salah satu bagian Goa Pindul terdapat ruangan cukup lebar sehingga terlihat seperti kolam yang luas. Biasanya digunakan sebagai tempat untuk berfoto – foto dan melompat dari tebing / dinding goa.
Nama Goa Pindul sendiri, konon berasal dari legenda yang dipercayai masyarakat sekitar, legenda ini menceritakan pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Setelah menjelajahi hutan lebat, gunung dan sungai, Joko Singlulung juga memasuki salah satu gua hingga kepalanya terbentur  batu ( red : kebendul ) , sehingga gua ini disebut Goa Pindul.

Bagaimana Menyikapi Carut Marut Goa Pindul

Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu

Siapapun kalau pertama kali melihat foto ini pasti akan terhenyak, mungkin akan langsung bereaksi “apa-apaan ini? merusak lingkungan..bla..bla..bla?”. Memang Indonesia masih belajar dalam pengelolaan wisata, apa yang terjadi di Pindul memang sebuah kesalahan, tapi kesalahan itu adalah sesuatu yang diperbaiki.

Di Indonesia turisme massal memang sesuatu yang sampai saat ini belum ditangani dengan serius atau mungkin memang tak akan pernah serius? Karena sudah banyak kasus, mulai dari Tidung, Sempu, Waisyak di Borobudur, Semeru dan sekarang berulang ke Goa Pindul. Adalah mudah jika saling menyalahkan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab tentang masalah ini. Tapi saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah, masalah seperti ini justru butuh solusi yang tepat agar cepat terurai.

Inti Permasalahan

Mungkin sebelum menilai permasalahan di Goa Pindul, sebaiknya harus melihat secara makro dulu seperti apa sebenarnya masalah Pindul. Untuk itu saya menghubungi Arif Sulistyo perihal hal ini siang tadi, Arif adalah salah seorang operator wisata tubing di Pindul. Arif mengelola @GoaPindul_GK, sebuah trip organizer khusus Goa Pindul, menurut Arif, merekalah yang pertama kali merintis jalur wisata di Goa Pindul. Dari yang awalnya dianggap gua yang angker dan menjadi tempat pembuangan berbagai macam sampah, oleh Arif dan tim kemudian dibersihkan perlahan, dijadikan tempat wisata dan akhirnya menjadi sesuatu yang menghasilkan secara ekonomis bagi warga masyarakat sekitar.

Memang jika hanya melihat foto tersebut sekilas, maka yang terbersit mungkin adalah keserakahan operator, ketidakpedulian pengunjung dan ujung-ujungnya penghakiman terhadap terjadinya kerusakan alam. Tapi jauh dari itu, masalah Pindul lebih kompleks dari yang dilihat di foto.

Memang mungkin tipikal orang Indonesia yang gampang tersulut, alih-alih mencari solusi bersama tapi terjebak dalam aroma salah menyalahkan satu sama lain. Ada yang menyalahkan travel writer, karena dianggap sebagai penyebar virus perjalanan dan pembuka tabir tempat eksotis, ada yang menyalahkan operator karena dianggap mata duitan atau terakhir menyalahkan pejalan yang seolah tidak empati pada kondisi tempat wisata. Saling salah menyalahkan tidak akan menghasilkan solusi, justru makin merunyamkan masalah.

Ketika saya tanya motif dibalik mengupload foto tersebut, Arif menjawab foto tersebut ia upload memang untuk menarik banyak pihak agar terbuka matanya dengan kondisi Goa Pindul yang sesungguhnya, kondisi yang menurut Arif sudah sangat memprihatinkan.

“Saya ngga tega sebenarnya mas kalo udah di dalam (Goa Pindul red), miris.” 

Menurut Arif ini adalah buah berlarut-larutnya masalah pengelolaan Goa Pindul. Sempat didera masalah kepemilikan lahan beberapa waktu silam, sampai sekarang juga belum keluar Perda untuk mengatur masalah kawasan wisata Goa Pindul ini. Padahal Perda ini bisa menjadi aturan agar sesama operator bisa duduk bersama baik untuk mengelola wisatanya ataupun menjaga kelestarian alamnya.

Ia mengiyakan terjadinya overload pengunjung. Menurutnya seharusnya per hari Goa Pindul daya tampung idealnya hanya untuk dikunjungi 200 orang, tapi disaat weekend bisa 10 kali lipatnya. Apa boleh buat, Goa Pindul memang daya tarik wisata yang sedang hits, masyarakat setempat pun seolah memanfaatkannya. Tapi jika ini dibiarkan, maka kerusakan alam di sekitar Goa Pindul sedang mengancam.

“lho mas, stalaktit di dalam itu sudah mulai rusak”

Menurut Arif itu karena terlalu banyak orang yang masuk ke dalam Goa secara bersama-sama. Karbon dioksida yang terkonsentrasi ini kemudian merusak stalaktit, membuat lapisan karst meluruh, lambat laun bisa merusak struktur batuan dalam gua. Selain itu ancaman berikutnya adalah soal Hipoksia / kekurangan oksigen. Apabila konsentrasi pengunjung dalam relung gua terlalu banyak dan berebut oksigen, maka yang terjadi saling berebut oksigen, konsentrasi oksigen di dalam makin berkurang dan muncullah Hipoksia. Begitupun jika terlalu banyak manusia yang memasuki relung goa, maka dikhawatirkan biota-biota yang hidup dan tinggal di dalam gelap goa bisa terganggu bahkan mati, itulah yang menimbulkan kekhawatiran akan rusaknya ekosistem di sekitar Goa Pindul.

Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu
Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu

Soal Ekonomi

“Ada 9 operator disini mas.”

Semenjak Arif mulai merintis wisata ini pada 2010 lalu, sekarang ini operator makin marak, rata-rata dari penduduk desa setempat. Mau tak mau, daya tarik wisata Goa Pindul ini telah merubah orientasi penduduk dari yang sebelumnya agraris menjadi menggarap lahan wisata, hal yang tak pernah terpikirkan oleh penduduk sebelumnya. Total tutur Arif ada 9 operator yang berbagi rejeki di Goa Pindul.

Turisme memang pada satu sisi bisa mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi, mengangkat kehidupan masyarakat setempat, memang benar. Namun di sisi lain adalah booming yang tak terkendali, orientasi pada keuntungan semata tanpa memperhatikan aspek daya dukung alam. Kenyataan ini bisa menjadi boomerang, karena sebenarnya daya tarik pesona Goa Pindul ada pada keunikan alamnya, jika itu rusak dan hilang, apa yang bisa diandalkan dan dijual?

Banyaknya operator ini juga menimbulkan masifnya promosi untuk menarik pengunjung. Saya sendiri pernah menyaksikan sendiri, begitu memasuki Gunung Kidul baik lewat arah Yogyakarta maupun melalui arah Klaten, sudah banyak sekali papan nama menuju Goa Pindul. Beberapa menawarkan jasa tour untuk langsung tubing, sebagian menawarkan jasa penunjuk jalan dan mengantarkan pengunjung sampai ke lokasi. Memang menurut Arif, Goa Pindul sudah mampu memberdayakan warga sekitar dan menguntungkan secara ekonomis.

Tapi banyaknya operator juga mendatangkan masalah. Menurut Arif ada beberapa operator yang mengabaikan safety dan SOP dalam pengarungan/tubing di Goa Pindul. Padahal menurut Arif, ini mutlak dipahami operator untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kadang karena terlalu banyak pengunjung mengakibatkan ada kelalaian yang timbul, dan jika ini dibiarkan maka akan menjadi sesuatu yang membahayakan.

Memang seperti hukum ekonomi, semakin banyak permintaan, akan semakin banyak penawaran pula. Ada gula, ada semut. Hal ini tak bisa dihindarkan, namun setidaknya harus dibuat regulasi untuk mengatur agar masyarakat mendapat manfaat secara ekonomi namun juga tidak muncul masalah kerusakan lingkungan kedepannya. Jika hanya mementingkan soal keuntungan materi, maka yang timbul adalah marketing yang membabi buta tanpa ada edukasi ke pengunjung tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

Solusi

Ini mungkin salah satu ekses negatif turisme, bisa jadi merusak alam dan lingkungan serta mengganggu tatanan yang sebelumnya sudah harmonis. Namun memang Indonesia harus banyak belajar soal turisme, bukan hanya pelaku wisatanya yang harus belajar, tapi juga pengelola objek wisatanya harus mampu membangun manajemen yang ramah terhadap lingkungan.

Yang seharusnya menjadi perhatian penting adalah sebenarnya Goa Pindul  sendiri masuk ke dalam kawasan Geopark Karst Gunung Sewu yang akan diusulkan dalam jaringan geopark Internasional Unesco. Nah jika hal ini terus berlarut-larut tanpa ditemukan solusinya, maka bisa jadi potensi wisata yang seharusnya sangat bernilai bisa menguap begitu saja.

Mungkin solusi pertama yang terpikirkan adalah membuat sistem kuota bagi pengunjung yang ingin berkunjung ke Goa Pindul. Sistem ini untuk mengakomodasi daya dukung gua dan tidak terjadi overload. Namun sistem ini harus disosialisasikan benar-benar agar diterima secara legowo oleh semua operator. Karena jika sistem ini diterapkan, tentunya ada pembatasan jumlah pengunjung dan ini akan mengurangi jumlah pengunjung yang datang.

Soal kuota ini sudah diaminkan Arif, bahkan Arif sudah menerapkan sistem kuota ini pada setiap trip yang menggunakan jasanya sebagai operator. Walaupun permintaan membludak, Arif sudah membatasi pengunjung yang akan menggunakan jasanya. Menurutnya jika bukan kita sendiri yang membatasi, maka siapa lagi? Pengunjung yang makin menyemut akan makin merusak Goa Pindul.

Hanya saja, perlu dirembug lagi dengan operator lain agar juga mematuhi aturan ini, melakukan kuota bagi pengunjung. Menurut Arif ini perlu landasan hukum yang kuat, itulah mengapa dalam hal ini Pemda Gunungkidul harus turut bertindak dalam bentuk Perda. Mengenai hal ini, Arif juga yang turut proaktif mendorong Pemda Gunungkidul agar segera menerbitkan Perda tentang Wisata Goa Pindul ini secepatnya, kalau bisa tahun depan sudah terbit, tak lain tak bukan agar ada landasan yang tegas untuk pembagian pengelolaan kawasan wisata Goa Pindul.

Opsi kedua adalah menyesuaikan tarif masuk Goa Pindul. Tarif yang sekarang menurut sekarang terlalu murah, itulah sebabnya orang-orang berbondong-bondong datang, membuat Goa Pindul tak ubahnya pasar induk. Menurut Arif memang ada wacana tarif dinaikkan, tapi itu menunggu ketok palu kesepakatan bersama. Saya pikir itu tidak masalah, toh ini hal yang penting untuk menjamin keberlangsungan wisata Goa Pindul agar tidak merusak alam sekaligus membuat pengunjung lebih nyaman, siapa sih yang mau antre seperti foto diatas? Justru itu membuat kegiatan wisata semakin tidak nyaman, lalu apa yang dicari lagi?

Tapi opsi solusi juga bukan hanya dibebankan pada operator atau Pemda. Seyogyanya ini tanggung jawab kita bersama. Toh, kita sendiri juga penikmat wisata itu sendiri. Mungkin kita harus lebih arif memandang segala sesuatu, misalkan jika destinasi sudah terlalu populer kita bisa mengurungkan niat untuk kesana, karena jika kita datang kita justru bisa memberi beban. Langkah berikutnya mungkin adalah kita perlu menghormati aturan jika kita datang ke tempat wisata. Dan memang jika ingin datang ke Goa Pindul, Arif menyarankan agar melakukan sistem reservasi dengan begitu operator bisa memilihkan hari yang pas, menerapkan sistem kuota dan tidak membebani lingkungan Goa Pindul.

Saya sendiri memiliki solusi agar menerapkan sistem zonasi di Goa Pindul, area mana yang boleh dikunjungi, area mana yang tidak. Selain itu juga perlu dibuat aturan yang tegas dan pengatahuan tentang susur gua. Bagaimanapun gua itu seharusnya disusur oleh para Speleolog dan sebenarnya. Perlu diingat konsekuensi sebuah Goa menjadi tempat wisata adalah berubahnya struktur Goa ataupun berubahnya susunan ekosistem yang hidup di dalam Goa.

Kemudian bisa juga dilakukan penutupan pada waktu-waktu tertentu selama jangka waktu tertentu. Hal ini untuk mengembalikan kondisi Goa, memberi waktu recovery bagi lingkungan Goa Pindul. Hal ini bukan hal baru, beberapa Taman Nasional menerapkan sistem ini untuk memberi waktu agar ekosistem memperbaiki diri. Ini penting mengingat Goa Pindul juga dilalui saluran air, saluran air bagaimanapun penting bagi manusia, bayangkan jika banyak sekali pengunjung yang masuk, bukankah mau tak mau air juga akan turut tercemar?

Banyak kisah pedih tentang kerusakan lingkungan atau punahnya ekosistem karena overload pengunjung. Seperti kisah punahnya beberapa spesies kupu-kupu di kawasan karst Taman Nasional Bantimurung, Maros karena banyaknya pengunjung yang datang merusak aktivitas kupu-kupu sekitar Taman Nasional Bantimurung. Jangan sampai eksploitasi Goa Pindul hanya mementingkan sisi ekonomi saja tapi melupakan keberlangsungan lingkungan yang seharusnya tetap lestari.

Kesimpulan

Obrolan singkat dengan Arif tadi siang membuka banyak hal. Bahwasanya masalah Goa Pindul tidak sesederhana itu, ada beragam kepentingan yang turut disana. Saya kira perlu banyak studi lanjutan yang lebih mendalam mengenai kondisi Goa Pindul, mengingat statusnya yang unik ini. Kemudian Arif juga menunggu solusi-solusi dan diskusi-diskusi lanjutan mengenai apa yang harus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan Goa Pindul. Bukan menanti adu argumen dan polemik yang berkepanjangan.

Sebagai seorang traveler, kiranya harus cerdas untuk membaca situasi yang terjadi. Jangan kemudian hanya menjadi traveler yang datang dan pergi dan bangga dengan kisah-kisah perjalanannya, jadilah seseorang yang bertanggung jawab, mampu mengambil nilai-nilai, tidak merusak dan meninggalkan manfaat. Edukasi sama pentingnya untuk operator, masyarakat, pemerintah dan wisatawan/traveler. Dan tanggung jawab ini dipikul bersama-sama.

Terlepas dari tulisan panjang diatas, masyarakat Indonesia masih harus belajar banyak tentang turisme massal dan belajar menghargai alam. Komersiasilasi di Indonesia masih belum diatur secara tegas dan inilah yang nanti akan menimbulkan bencana karena tidak ada penghargaan terhadap alam dan lingkungan, ironisnya jika ini dibiarkan bencana ini akan terus berulang.

Tabik.

Penulis :  Farchan Noor Rachman

Referensi

Detik : 1, 2, 3, 4, 5, 6

Soloposfm.

Metrotvnews

Tentang Masalah Punahnya Kupu-kupu. 

Legenda Goa Pindul

" Wartawan dari Kompas untuk pertama kali mempopulerkan objek wisata Goa pindul"

” Wartawan dari Kompas untuk pertama kali mempopulerkan objek wisata Goa pindul”

Salah satu wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta yang belakangan sedang naik daun adalah Goa Pindul. Wisata alam ini terletak dan berlokasi di desa Bejiharjo, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Popularitas wisata Goa Pindul tak lepas dari keunikan wisatanya yaitu menyusuri gua dengan media ban pelampung melalui aliran sungai sambil menikmati keindahan stalaktit dan stalakmit khas gua. Kepopuleran Goa Pindul juga didukung oleh kemudahan akses dan kisah yang menyelimutinya.
Lantas seperti apakah sejarah awal Goa Pindul hingga terkenal sampai sekarang ini? Mungkin Anda masih penasaran. Yuk sama-sama simak ulasan dan informasi sejarah Goa Pindul berikut ini.

Legenda dan Misteri Goa Pindul

Sejarah Goa Pindul berawal dari perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang merupakan utusan Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram untuk mencari seorang bayi.
Ketika bayi tersebut ditemukan keduanya membawa bayi tersebut ke arah timur yaitu wilayah Gunung Kidul yaitu di daerah Karangmojo. Suatu saat bayi tersebut menangis. Kedua utusan itu pun lantas memandikan sang bayi.
Ki Juru Mertani mencoba naik ke bukit. Ia kemudian menginjak tanah bukit tersebut. Dan dengan kesaktiaannya tanah itu pun menganga dan runtuh sehingga membentuk lubang yang terdapat aliran air di dalamnya.
Setelah itu sang bayi pun di bawa turun dan akan dimandikan. Saat itulah pipi bayi itu terbentur (kebendhul) batu yang terdapat di goa. Nah, dari situlah kemudian berkembang nama Goa Pindul dari pipi yang terbentur (kebendhul).

Sejarah Goa Pindul Versi Lain

Masyarakat yang berada di sekitar kawasan wisata Goa Pindul rupanya punya cerita dan mempercayai bahwa Goa Pindul berawal dari perjalanan dan petualangan Joko Singlulung. Joko Singlulung melakukan penelurusan dan pencarian guna menemukan ayahnya. Ia menyusuri area hutan, sungai, dan goa-goa. Ketika sedang berada dalam 7 (tujuh) gua yang terdapat aliran sungai di dalamnya, kepala Joko terbentur dengan sebuah batu yang terdapat dalam goa yang ia susuri. Dari peristiwa benturan itulah kemudian nama goa di mana Joko mencari ayahnya dikenal dengan nama goa Pindul yang asalnya dari bahasa Jawa yaitu pipi gebendul (pindul) yang artinya pipi yang terbentur.
Sementara sejarah Goa Pindul versi lain mengungkapkan bahwa di dalam goa tersebut terdapat sebuah mata air (mbelik). Mata air tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan mbelik panguripan yang artinya mata air kehidupan.
Mata air yang terdapat dalam Goa Pindul itu juga berhubungan dengan kisah seorang yang bernama Kyai Jaluwesi yang berseteru dengan Bendhogrowong. Keduanya lantas terlibat dalam adu kekuatan dan kesaktian.
Kyai Jaluwesi nampaknya menang dalam adu kesaktian tersebut. Bendhogrowong kemudian mengeluarkan kesaktiannya untuk menyerang Kyai Jaluwesi. Namun kesaktian yang dikeluarkan tersebut meleset hingga mengenai anjing piaraan anak kembar Kyai Jaluwesi, Widodo dan Widadi. Anjing yang bernaama Sona Langking itu terluka dan berlari kesana-kemari hingga kemudian menjumpai sumber mata air di semak-semak. Kyai Jaluwesi yang mengejar dan mengikuti anjing tersebut terkejut menemukan anjing itu telah sembuh. Dari situ Kyai Jaluwesi menamakan sumber mata air tersebut dengan nama mbelik panguripan karena dapat menyembuhkan seekor anjing.

Awal Wisata Goa Pindul

010

“Subagyo adalah salah satu tokoh perintis objek wisata Goa pindul”

Sebelum menjadi sebuah objek wisata yang terkenal dan menjadi salah satu andalan kabupaten Gunung Kidul, Goa Pindul awalnya hanyalah sebuah goa yang tak terawat dan menjadi sarang kelelawar. Lantas warga bekerjasama dengan sejumlah aparat pemerintah desa Bejiharjo untuk membersihkan kawasan tersebut. Karena keunikannya goa ini kemudian dijadikan dan dikembangkan menjadi objek wisata alam. Pada tahun 2010 pemerintah Kabupaten Gunung Kidul meresmikan goa ini dengan nama Goa Pindul. Dari situlah kemudian objek wisata Goa Pindul menjadi terkenal. Begitulah sejarah Goa Pindul.

Mitos seputar Goa Pindul

Tetetsan air stalaktit di Goa pindul konon katanya bisa menambah awet muda bagi kaum wanita.

Tetetsan air stalaktit di Goa pindul konon katanya bisa menambah awet muda bagi kaum wanita.

Goa Pindul yang kini menjadi primadona objek wisata Gunungkidul, bukan hanya menyimpan banyak keindahan, tetapi juga mempunyai banyak cerita terkait Kerajaan Mataram. Bahkan ada mitos terkait dengan stalaktit atau stalakmit di dalamnya.

Nama Pindul sendiri terkait cerita keluarga Kerajaan Mataram. Konon, kata ‘pindul’ berasal dari dua kata, yakni ‘pipi kejendul’ alias bagian wajah terbentur, yakni terbentur bagian gua yang sempit. Konon, hal ini dialami salah satu keluarga Kraton Yogyakarta.
Karena posisi goa di sepanjang aliran sungai, konon bagian dalam goa ini sering digunakan untuk semedi atau bertapa. Di samping keadaan gelap, suasaa juga sangat sepi, sehingga hening dan pas untuk mengheningkan cipta. Lokasi tempat bertapa berada di kanan-kiri sungai, di antara stalaktit dan stalakmit.
Sementara itu sejumlah mitos mewarnai isi goa tersebut. Di antaranya ada batu berbentuk lonjong menjulang ke atas. Konon, batu tersebut mempunyai khasiat membuat pria menjadi perkasa. Caranya adalah dengan memegang batu tersebut. “Jika ada pria memegang batu ini, maka ia akan menjadi pria perkasa,” kata seorang pemandu wisata.
Kalau yang ini terkait dengan kaum pria, di sisi lain juga ada mitos terkait kaum hawa. Yakni pada bagian atap goa yang secara terus menerus meneteskan air. Konon, setiap perempuan yang terkena tetesan air tersebut, maka ia akan menjadi seorang wanita yang cantik nan jelita.
Kalau anda mengunjungi Goa Pindul, semua ini akan dijelaskan secara gamblang oleh pemandu. Bahkan kalau kurang jelas atau masih penasaran bisa ditanyakan lebih lanjut. Silakan mencoba! (Fie)